Kamis, 10 Mei 2012

Pengaruh Dan Eksistensi Rumah (Keluarga) Dalam Pendidikan


A.  Tanggung Jawab Pendidikan Dalam Islam
Dalam GBHN (Ketetapan MPR No.IV/MPR/1978) berkenaan dengan pendidikan dikemukakan antara tangga,sekolah,dan masyarakat.”Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah ,keluarga dan masyarakat.
Dalam perkembangannya , setting pendidikan awal yang akan dilalui anak adalah fase dimana pertama ia muncul , yaitu “keluarga”. Pendidkan keluarga sangatlah penting karena akan menjadi pendidikan permulaan dalam proses pembelajaran dan penempaan anak yang dalam hal ini kedua orang tua sangat berperan dalam membentuk pondasi awal pendidikan.
Secara aksiologi bahasa yang di mengerti anak pertama kali adalah bahasa ibu,dimana dalam tahap ini baik disadari ataupun tidak anak akan cendrung lebih menggunakan dan menirukan bahasa yang di pergunakan oleh kedua orang tuanya khususunya ibu.
Hal itu adalah salah satu contoh kecil betapa besar peran orang tua pada perkembangan daya pikir dan imajinasi anak sebagai calon peserta didik.Setelah terciptanya pondasi awal inilah ,anak akan lebih mudah mengenyam pendidikan lebih lanjut ke jenjang yang lebih tinggi.
Dengan pemberian bimbingan kepada anak akan lebih mempermudah proses pengajaran,pemberian bimbingan ini dilakukan oleh orang tua di dalam lingkungan rumah tangga,para guru di dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.                                                            

B.   Tujuan Umum Dan Khusus Pendidikan Dalam Islam
Yang dimaksud dengan tujuan umum adalah maksud atau perubahan-perubahan yang dikehendaki yang diusahakan oeh pendidikan untuk mencapainya.tujuan ini diangggap kurang merata dan lebih dekat dari tujuan tertinggi,tetapip kurang khusus jika dibandingkan dengan tujun khusus.
Belakangan ini telah banyak terbit berbagai pendapat mengenai tujuan umum pendidikan ini,diantaranya adalah :
Menurut Nahlawy mengungkapkan 4 tujuan umum dalam pendidikan islam,yaitu
1.      Pendidikan akal dan persiapan fikiran,Allah menyuruh merenungkan segala kejadian yang ada di bumi dan langit agar beriman kepada Allah.
2.      Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada anak ,Islam adalah agama fitrah,sebab ajarannya tidak asing dari tabiat fitrah manusia
3.      Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya baik laki-laki maupun perempuan.
4.      Berusaha untuk menyeimbangkan segala potensi dan bakat-bakat manusia.
Yang dimaksud dengan tujuan khusus pendidikan dalam islam adalah perubahan-perubahan yang diinginkan yang merupakan bagian dibawah tiap tujuan umum pendidikan.dengan kata lain gabungan antara pengetahuan ,ketrampilan ,pola-pola tingkah laku ,sikap,nilai yang terkandung dalam tujuan akhir atau tujuan umum pendidikan ,yang tanpa terlaksananya maka baik tujuan akhir maupaun tujuan umum tidak akan sempurna.Diantara beberapa tujuan khusus pendidian islam adalah:
1.      Memperkenalkan kepada generaasi muda akan aqidah islam ,dasar-dasarnya ,asal-usul ibadah,dan lainnya
2.      prinsip dasar akhlaq yang mulia
3.      Menanamkan keimanan kepada Allah pencipta alam semesta,malaikat,kitab,rosul dan hari akhir
4.      Menanamkan rasa cinta kepada Al-qur’an membacanya dengan baik,memahaminya dan mengamalkan ajarannya.
5.      Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan islam dan pahlawan-pahlawannya dan mengikuti jejak mereka.
C.   Pendidikan Islam Di Rumah
a.      Pendahuluan
Berbicara tentang proses pendidikan dalam setiap pendidikan tidak akan sempurna kecuali harus meliputi pembicaraan tentang falsafah,tujuan,kebijaksanaan,kurikulum,metode dan alat yang digunakan oleh proses itu dalam sistem tersebut.
Begitu juga harus dibicarakan tentang institusi-institusi yang menjalankan proses pendidikan atau memberi sumbangsih terhadap perkembangannya.Juga harus dibicarakan orang-orang yang mengelola proses tersebutdan orang-orang yang dilibatkan oleh proses tersebut termasuk murid-murid dan orang yang dijadikan sandaran pendidikan dan usaha yang dicurahkan dalam proses tersebut ,sebab semuanya itu adalah aspek-aspek bagi proses pendidikan.[3]
Dalam tulisan ini kita membatasi pembicaraan terhadap sebagian aspek itu saja secara mendalam sedang yang lain-lain akan kita soroti sepintas lalu.diantara aspek yang akan kita bicarakan adalah Institusi-institusi pendidikan ,orang-orang yang mengelola dan mengendalikannya,orang-orang yang mengambil dan menerima faedah dan manfaat dari pendidikan dalam ranah islam.
Sehingga dalam membicarakan ketiga aspek ini,kita hanya memilih sebagian kecil aja dari padanya ,yaitu keluarga atau rumah tangga yang berkenaan dengan institusi pendidikan,orang tua dan orang dewasa berkenaan dengan aspek pengelolaan pendidikan dan anak-anak sebagai penerima manfaat dari proses pendidikan tersebut.
b.      Konsep Keluarga Dalam Islam
Pemikiran sosial dalam Islam setuju dengan pemikiran sosial modern yang mengatakan bahwa keluarga itu adalah unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat dimana hubungan-hubungan yang terdapat di dalam, sebahagian besarnya, bersifat hubungan-hubungan langsung. Disitulah berkembang individu dan disitulah terbentuknya tahap-tahap awal proses pemasyarakatan (socialozation), dan melalui interaksi dengan iya ia memperoleh pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi dan sikapnya dalam hidup dan dengan itu ia memperoleh ketenteraman dan ketenangan.
Tiga unsur penting dalam keluarga,yaitu suami ,istri,anak berperan penting dalam membina dan menegakkan keluarga,sehingga kalau salah satu unsur itu hilang ,maka keluarga menjadi goncang dan keluarga menjadi kehilangan keseimbangan.
c.       Pentingnya Keluarga Dan Usaha Meneguhkannya Dalam Islam
Islam memandang keluarga sebagai lingkungan atau milieu pertama bagi individu di mana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan milieu pertama individu memperoleh unsur-unsur dan cir-cir dasar dari pada kepribadiannya. Juga dari situ ia memperoleh akhlak, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan emosinya dan dengan itu ia banyak keungkianan-kemungkinan, kesanggupan-kesangguopan dan kesediaannya menjadi kenyataan yang hidup dan tindak laku yang tampak. Jadi keluarga itumenurut pandangan individu merupakan simbol bagi ciri-ciri yang mulia seperti keimanan yang teguh kepada Allah.
d.      Fungsi Pendidikan Keluarga Dalam Islam
Fungsi pendidikan bagi keluarga bukanlah satu-satunya fungsi, tetapi banyak lagi fungsi-fungsi lain, seperti fungsi melahirkan anak dan menyusukannya, fungsi pengeluaran (production) dan memberi sumbangan perekonomian untuk memenuhi keperluan anggota-anggota keluarga melalui kerja dan pengeluaran dalam berbagai bentuiknya, fungsi pelayann terhadap anggota-anggota keluarga seperti pekerjaan-pekerjaan yang diperlukan untuk kebutuhan-kebutuhan sehari-hari.

D.   Peran Orang Tua Dalam Pendidikan
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka,karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan .Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik,melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memeberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan.Situasi ini terwujud akibat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh yang mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Imam Ghazali mengatakan “anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya”,hatinya masih suci merupakan mutiara yang masih polos tanpa ukiran dan gambar,Ia siap diukir cendrung apa saja yang mempengaruhinya,sebagaimana sabda nabi,
Setiap anak sebenarnya dilahirkan diatas fitrah (islam),Kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi yahudi,majusi dan nasrani”
Berdasarkan hal ini ,Abu Ala’ mengatakan melalui syairnya:
Anak-anak kita akan tumbuh
Menurut apa yang dibiasakan oleh orang tuanya
Anak tidaklah menjadi tercela oleh akalnya
Namun orang-orang dekatnya yang membuatnya hina
Jika rumah mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan anak,maka untuk mewujudkan tujuan diatas,rumah harus diliputi oleh segala hal yang bisa menanamkan ruh keagamaan dan keutamaan dalam jiwa anak
Orang tua memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh pada pendidikan anak-anaknya.sejak seorang anak lahir,ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya,dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya apabila ibu itu menjalankan tugas dengan baik sebagai ibu.
Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula,di mata anaknya ia adalah seseorang yang tertinggi gengsinya dan terpandai diantara orang-orang yang dikenalnya.Cara ayahnya melakukan pekerjaanya sehari-hari berpengaruh pada pekerjaan anaknya.Ayah adalah penolong utamanya ,lebih-lebih pada penolong yang agak besar baik laki-laki maupun perempuan ,bila ia mau mendekati dan dapat memahami hati anaknya.
Pada dasarnya kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas itu berlaku dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga bagaimanapun juga keadaannya.Hal itu menunjukkan ciri-ciri watak rasa tanggung jawab setiap orang tua atas kehidupan anak-anak mereka untuk masa kini dan mendatang.bahkan orang tua umumnya merasa bertanggung jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anaknya.Karenanya tidaklah diragukan lagi bahwa tanggung jawab pendidikan yang mendasar adalah tanggung jawab orang tua.
Di samping itu pangkal ketentraman dan kebahagiaan terletak pada keluarga .Mengingat pentingnya hidup dalam keluarga yang demikian,maka islam memandang keluarga bukan hanya sebagai persekutuan kecil saja,melainkan lebih dari itu,yakni sebagai lembaga hidup manusia yang memberi peluang kepada para anggotanya untuk hidup celaka atau bahagia di dunia dan akhirat.
Pertama-tama yang diperintahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dalam mengembangkan ajaran agama adalah kepada keluarga terdekatnya baru kemudian kepada masyarakat luas.Hal itu berarti terkandung didalamnya makna bahwa keselamatan keluarga lebih di utamakan dari pada keselamatan masyarakat luas,karena keselamatan masyarakat luas pada hakikatnya bertumpu pada keselamatan keluarga.
Allah SWT berfirman:
 
. dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,
Demikian pula islam memerintahkan kepada para orang tua berlaku sebagai kepala dan pemimpin dalam keluarganya serta berkewajiban memelihara keluarganya dari api neraka,sebagaimana firman Allah artinya

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Mengenai tanggung jawab orang tua atas pendidikan anak-anaknya termaktub dalam hadis nabi:
“Anas mengatakan bahwa Rasululloh bersabda:Anak itu pada hari ketujuh kelahirannya disembelihkan akikahnya serta diberi namanya serta disingkirkan dari segala kotoran-kotoran.Jika ia berumur 6 tahun ia dididik beradab susila,jika ia telah berumur 9 tahun dipisahkan tempat tidurnya ,dan jika telah berumur 13 tahun dipukul agar mau sembahyang (diharuskan).Bila ia telah berumur 16 tahun boleh dikawinkan ,setelah itu ayah berjabat tangan dengannya dan mengatakan:”saya telah mendidik ,mengajar dan mengawinkn kamu,saya mohon perlindungan kepada Allah dari fitnahan-fitnahan di dunia dan siksaan akhirat”. 
Di titik dari hubungan dan tanggung jawab orang tua rehadap anak maka tanggung jawab pendidikan tidak dapat dipikulkan kepada orang lain,sebab guru dan pemimpin umat umpamanya,dalam memikul tanggung jawab ini hanyalah keikutsertaan.
Tanggung jawab pendidikan islam yang menjadi beban orang tua sekurang-kurangnya harus dilaksanakan dalam rangka
1.      Memelihara dan membesarkan anak,Ini adalah bentuk yang paling sederhana dari setiap tanggung jawab orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia
2.      Melindungi dan menjamin kesamaan baik jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan tujuan hidup yang sesuai dengan falfsafat hidup dan agama yang di anutnya.
3.      Memberi pengajaran dalam arti yang luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang dapat di capainya
4.      Membahagiakan anak baik dunia maupun akhirat sesuai tujuan dan pandangan hidup seorang muslim.
Melihat lingkup tanggung  jawab pendidikan islam yang meliputi kehidupan dunia dan akherat  dalam arti yang luas dapatlah diperkirakan bahwa orang tua tidak mungkin dapat memikulnya sendiri secara “sempurna”,lebih-lebih dalam masyarakat yang senantiasa berkembang maju.Hal ini bukanlah merupakan “aib” karena tanggung jawab tersebut tidak harus dipikul oleh orang tua secara sendiri-sendiri,sebab mereka sebagai manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan .Namun demikian patutlah diingat bahwa setiap orang tua tidak dapat mengelakkan dari tanggung jawab itu.artinya betapapun juga tanggung jawab pendidikan tersebut kembali atau terpulang pada orang tua juga.
Kenyataan hidup telah membuka peluang orang-orang lain untuk turut serta memikul tanggung jawab pendidikan tersebut. Peluang ini pada dasarnya terletak pada kemungkinan-kemungkinan apakah orang-orang lain itu dapat memenuhi tugas dan keinginan yang sesuai dengan harapan orang tua ? dengan demikian peluang ini hanya akan diisi oleh orang dewasa yang memiliki keinginan,harapan,cita-cita,pandangan hidup dan hidup keagamaan yang sesuai seperti yang diharapkan orang tua untuk anak-anaknya.
Disamping itu juga kesediaan orang dewasa yang demikian itu diperlukan karena dengan itu ia menyatakan kerelaannya untuk memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dibebankan kepada orang tua.
  1. Peran Seorang Guru
Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Mereka ini tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru.
Agama Islam sangat menghargai orang0orang yang berilmu pengetahuan (guru/ulama), sehingga hanya mereka sajalah yang pantas mencapai taraf ketinggian dan keutuhan hidup.
Firman Allah :

Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  1. Syarat Untuk Menjadi Seorang Guru
Di lihat dari ilmu pendidikan Islam, maka secara umum untuk menjadi guru yang baik dan diperkirakan dapat memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya hendaknya bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaninya, baik akhlaknya, bertanggung jawab dan berjiwa nasional.
1.      Takwa kepada allah sebagai syarat menjadi guru.
Guru, sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan islam, tidak mungkin mendidik anak agar bertakwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertakwa kepada Allah, sebab ia adalah teladan bagi muridnya sebagaimana Rasulullah Saw menjadi teladan bagi umatnya.
2.      Berilmu sebagai syarat untuk menjadi guru.
Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti, bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan.
3. Sehat jasmani sebagai syarat menjadi guru.
Kesehatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular umpamanya sangat membahayakan kesehatan anak-anak. Kita kenal ucapan “mens sana in corpore sano”, yang artinya dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat. Walupun pepatah itu tidak benar secara menyeluruh, akan tetapi bahwa kesehatan badan sangat mempengaruhi semangat bekerja.
3.      Berkelakuan baik sebagai syarat menjadi guru.
Budi pekerti guru maha penting dalam pendidikan watak murid. Guru harus menjadi suri tauladan, karena anak-anak bersifat suka meniru. Di antara tujuan pendidikan ialah membetuk kahlak baik pada anak dan ini hanya mungkin jika guru itu berakhlak baik pula. Yang dimaksud dengan akhlak baik dalam ajaran ilmu pendidikan Islam adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran Islm, seperti dicontohkan oleh pendidik utama, Muhammad Saw.
G.  Media Pendidikan Islam

A. Masjid dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan

1. Fungsi Edukatif Masjid
Pada awal penyebagran Islam, masjid memilki fungsi mulia yang biasa jadi sekarang ini mulai terlupakan. Pada zaman itu masjid digunakan sebagai markas besar tentara dan pusat gerakan pembebabsan umat dari penghambaan kepada manusia, berhala, atau taghut.
Masjid pun digunakan sebagai pusat pendidikan hak dan kewajiban mereka terhadap Negara Islam yang pada dasarnya didirikan untuk mewujudkan ketaatan kepada syariat, keadilan, dan rahmat allah.
2. Fungsi Sosial Masjid
Manusia dididik di masjid-masjid dalam naungan masyarakat Islam yang tinggi dan mengutamakan musyawarah dalam penyelasaian masalahnya.
3. Dampak Edukatif dan Sosial Masjid
Pemanfaatan masjid yang demikian akan mendidika m,anusia untuk mengaitkan segala persoalan hidup pada ikatan karena Allah dan bersumber pada pendidikan Islam universal, yaitu penghambaan diri kepada Allah. Dan itu harus tertanam keapda diri manusia secara ikhlas, tanpa membebani. Artinya, mereka dikenalkan pada bentuk kata secara tertulis lengkap dengan ajarannya. Setelah mampu membaca, mereka berlatih menulis lewat peniruan-peniruan huruf tertera pada mushaf.
B. Rumah dan Pengaruhnya terhadap Pendidikan
Pada dasarnya, rumah keluarga muslim adalah benteng utama tempat-tempat anak-anak dibesarkan melalui pendidikan Islam. Yang dimaksud dengan keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam. Berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah, kita dapat mengatakan bahwa tujuan tyerpenting dari pembentukan keluarga adalah hal-hal berikut.
Pertama, mendirikan syariat Allah dalam segala permasalahan rumah tangga. Artinya, tujuan keluaraga adalah mendirikan sumah tangga muslim yang mendasarkan kehidupannya pada perwujudan penghambaan kepada Allah.
Kedua, mewujudkan kententraman dan ketenagan psikologis. Allah SWT Berfirman :
“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya .., (al-A’raf: 189)
Jika suami isteri bersatu di atas landasan kasih dan saying dan kententeraman psikologi yang interaktif, anak-anak akan tumbuh dalam suasana bahagia, percaya diri, tenteram, kasih saying, serta jauh dari kekacauan, kesulitan, dan penyakit batin yang melemahkan kepribadian anak.
Ketiga, mewujudkan sunnah Rasulullah SAW, dengan melahirkan anak-anak saleh sehingga umat manusia merasa bangga dengan kehadiran kita seperti yang disabdakan Rasulullah SAW.
‘ Menikahlah, berketurunanlah, niscaya kamu menjadi banyak karena aku akan memrasa bangga olehmu di hadapan umat lain pada hari kiamat.”
Keempat, memenuhi kebutuhan cinta kasih anak-anak. Naluri menyayangi anak merupakan potensi yang diciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia dan binatang. Allah menjadikan naluri itu sebagai salah satu landasan kehidupan amaliah, psikologis, dan social mayoritas makhluk hidup. Keluarga, terutama orang tua, bertanggung jawab untuk memberikan kasih saying kepada anak-anaknya karena kasih saying mrupakan landasan terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan psikologis dan social anak,. Jika seorang anak mengalami ketidak seimbangan rasa cinta, kehidupan bermasyarakatnya akan dicemari penyimpangan-penyimpangan.
Kelima, menjaga fitrah anak agar tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan. Dalam konsepsi Islam, keluarga adalah penanggung jawab utama terpeliharanya fitrah anak. Dengan demikian, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan anak-anak lebih disebabkan oleh ketidakwaspadaan orang tua atau pendidik terhadap perkembangan anak.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money